Rasanya tak puas jika membahas sosok seperti Prabowo Subianto hanya berdasar opini dan berita tulisan orang zaman sekarang saja. Sudut pandang yang bisa memihak atau bahkan memusuhinya.
Nah, bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang kitab Primbon?
Sebuah kitab yang dari etimologi bahasanya (Jawa) adalah Mbon yang artinya induk dan pri/peri yang berarti perluasan kata dasar. Jadi boleh diartikan, primbon adalah induk dari catatan atau pengetahuan orang Jawa.
Pengetahuan yang salah satunya merupakan bagian dari ilmu titen, sebuah ungkapan dari kegiatan ingat-mengingat dari fenomena alam yang polanya sudah teruji secara empiris dan berulang-ulang. Hal yang kemudian tercatat di batu prasasti, daun lontar, kertas hingga kini lembar digital.
Pola-pola inilah yang kelak akan menjadi sistem penanggalan, sistem musim, tanda-tanda tubuh (katuranggan) serta isyarat fisik lainnya seperti tahi lalat, kedutan hingga rasa gatal.
Pengetahuan lain dari primbon adalah kumpulan ilmu suluk. Ilmu yang menurut Primbon Sunan Bonang ini meliputi saripati ilmu Ushuluddin, Tauhid, Tarekat dan Tasyawwuf yang berhaluan ahlussunnah Wal Jama’ah.
Namun sayangnya, primbon Sunan Bonang yang terdiri dari dua seri tersebut sudah diambil oleh VOC (Belanda) pada tahun 1597 M dan disimpan di Liedsche Universiteitsbibliotheek. Lalu sejak Oktober 1597 M, primbon Sunan Bonang yang dalam bahasa Belanda disebut “Het Boek Van Bonang” ditempatkan di bawah katalogus no. XVII kal. Octob. 1599 M.
Sayang sekali memang, sebuah primbon legendaris yang terkenal dengan penutupan katanya : “Tammat carita cinitra kang pakerti Pangeraning Bonang” - (Selesai sudah cerita yang diceritakan oleh Sunan Bonang) mesti harus berada di negeri seberang.
Nah, bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang kitab Primbon?
Sebuah kitab yang dari etimologi bahasanya (Jawa) adalah Mbon yang artinya induk dan pri/peri yang berarti perluasan kata dasar. Jadi boleh diartikan, primbon adalah induk dari catatan atau pengetahuan orang Jawa.
Pengetahuan yang salah satunya merupakan bagian dari ilmu titen, sebuah ungkapan dari kegiatan ingat-mengingat dari fenomena alam yang polanya sudah teruji secara empiris dan berulang-ulang. Hal yang kemudian tercatat di batu prasasti, daun lontar, kertas hingga kini lembar digital.
Pola-pola inilah yang kelak akan menjadi sistem penanggalan, sistem musim, tanda-tanda tubuh (katuranggan) serta isyarat fisik lainnya seperti tahi lalat, kedutan hingga rasa gatal.
Pengetahuan lain dari primbon adalah kumpulan ilmu suluk. Ilmu yang menurut Primbon Sunan Bonang ini meliputi saripati ilmu Ushuluddin, Tauhid, Tarekat dan Tasyawwuf yang berhaluan ahlussunnah Wal Jama’ah.
Namun sayangnya, primbon Sunan Bonang yang terdiri dari dua seri tersebut sudah diambil oleh VOC (Belanda) pada tahun 1597 M dan disimpan di Liedsche Universiteitsbibliotheek. Lalu sejak Oktober 1597 M, primbon Sunan Bonang yang dalam bahasa Belanda disebut “Het Boek Van Bonang” ditempatkan di bawah katalogus no. XVII kal. Octob. 1599 M.
Sayang sekali memang, sebuah primbon legendaris yang terkenal dengan penutupan katanya : “Tammat carita cinitra kang pakerti Pangeraning Bonang” - (Selesai sudah cerita yang diceritakan oleh Sunan Bonang) mesti harus berada di negeri seberang.
Primbon Horoskop Jawa
Nah, beruntung masih ada satu jenis primbon atau sering disebut juga paririmbon ini yang tersisa. Jenis itu adalah primbon yang berfungsi sebagai horoskop versi Jawa.
Ya, melihat geografis Indonesia yang tropis, magnetisme bumi dan DNA individunya yang berbeda dengan orang Barat—tentu horoskop versi Jawa tentu lebih tepat digunakan untuk melihat karakter orang Indonesia daripada astrologi barat atau shio Tiongkok. Tak terkecuali kepada Prabowo Subianto.
Apalagi, hitungan primbon ini lekat dengan pranata mangsa (tatanan waktu) yang sangat erat kaitannya dengan musim tanam baik padi atau palawija khas pekerjaan utama masyarakat Indonesia, baik Jawa mau pun sekitarnya. Apalagi dikaitkan dengan strategi dorongan besar ala Prabowo yang memang berbasis pertanian, tentu mau tidak mau—hitungan primbon ini menjadi sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu dan penasaran.
Nah, dari tanggal lahir Prabowo di 17 Oktober 1951—akan terlihat petunjuk dasar sebagai berikut:
Weton: Rabu Pon
Mongso: Kalima
Wuku: Julungpujud
Dari data awal tersebut, dapat dilihat beberapa hal sebagai berikut:
1. Weton
Prabowo dengan weton Rabu Pon, dalam hitungan Jawa adalah tipe manusia yang penuh keberuntungan. Sangat detail dan hati-hati dalam merencanakan sesuatu tindakan serta mempunyai keterampilan dalam personal approach atau sosial yang sebenarnya sangat mudah bergaul.
Namun kekurangannya, sangat mementingkan harga diri dan kadangkala narsis. Untung saja narsis ini lebih sekedar sebagai cara bercanda dan jauh dari niat untuk menyombongkan diri.
2. Mongso
Prabowo yang terlahir di pranata mangsa KALIMA, sebuah “zodiak” versi Jawa yang mempunyai batasan waktu orbit 27 hari, dari tangga 14 Oktober sampai dengan 9 November yang mendapat sebutan (candra) “Pancuran emas sumawur ing jagat” yang berarti pancuran emas yang bertaburan di bumi.
Sebuah perlambang bahwa saat sosok itu dilahirkan, waktu itu adalah saat dimana Tuhan sedang menganugrahkan sesuatu yang berharga yaitu “emas” dan “air”. Sedangkan emas sendiri adalah sesuatu yang sangat murni dan abadi dan air adalah sumber kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Perlambang yang akan menjadi karakter dasarnya selama hidup menjadi manusia.
Mangsa Kalima ini juga sangat dipengaruhi oleh energi kosmis “Batara Asmara”. Gambaran dari keberuntungan, kebahagiaan dan kesenangan/kesejahteraan.
Namun sayangnya, sebelum keberuntungan dan kesejahteraan datang—ujian dan gangguan tidak menyenangkan akan hadir terlebih dahulu. Akan mengalami masa penderitaan yang dalam dan menyiksa. Mau tidak mau, derita itu sendiri adalah samaran dari “Hyang Asmara”. Dan kebahagiaan itu akan hadir ketika sudah tabah melewati penderitaan. Termasuk penderitaan fitnah 1998 yang diterimanya.
Lahir di mangsa ini juga mempunyai sifat sangat menjaga harga diri dan ketika berkerja, sering melakukannnya diam-diam namun selalu sukses.
Istimewanya, ia adalah sosok yang sangat percaya diri dalam menghadapi kehidupan. Jarang mengeluh dan pantang menyerah menghadapi kesulitan.
Lebih menariknya, karakter mangsa ini juga sangat pandai menyimpan rahasia dan selalu menepati janji. Jadi sering menjadi tempat curhat untuk rahasia pribadi serta disegani dan berwibawa. Namun sayangnya, kadangkala terlalu menyimpan rahasia juga tidak baik—apalagi jika rahasia itu merugikan diri sendiri.
Kemudian, fisik golongan mangsa ini adalah mempunyai postur tubuh serasi dan bentuk leher agak besar. Sorot matanya tajam dan tangannya berotot tanda bahwa ia mampu melakukan pekerjaan berat. Cara jalannya pun tegap dan gagah, ciri manusia yang tegas dan tidak klemar-klemer.
Sewaktu kecil, sosok dibawah naungan Dewa Asmara ini walau pendiam namun sangat cerdas luar biasa. Sangat cepat menerima pelajaran, bahkan mempunyai inisiatif mempelajari sesuatu tanpa guru.
Selain itu, ia juga menjadi pembela kawannya yang sedang dalam ancaman. Berani berkelahi untuk kawan-kawannya. Lebih lengkapnya, ia sangat royal dalam mentraktir sahabatnya.
Nah, jadi tak heran kenapa Soe Hok Gie sering meminjam sepatu Prabowo untuk naik gunung. Sepertinya bagi Prabowo, bukan hal yang sulit untuk meminjamkan sepatunya ke Gie. Sepatu yang juga merupakan sepatu yang dipakai saat akhirnya wafat di gunung Semeru.
Semenjak kecil, kelahiran mangsa kalima ini ternyata sangat menyukai binatang. Baik kucing, anjing, kelinci, burung atau lain sebagainya. Ya, tidak heran jika Prabowo sekarang sangat suka memelihara kuda, kambing atau sapi. Sudah bawaaan bayi.
Karakter masa kecil ini ternyata masih berlaku sampai dengan dewasa. Masih sangat pandai menyimpan rahasia dan pendiam. Namun kelebihannya, kemampuan bahasa asingnya sangat tinggi. Kejujuran yang tidak diragukan dan selalu menepati janji. Walau kadang dalam kondisi tertentu menjadi sosok yang nekad dan keras. Mungkin kebiasaan membela kawan-kawannya semasa kecil.
Hobi dimasa dewasa juga tak jauh-jauh dari masa kecil, suka membela sahabat, senang mentraktir dan berbagi karena karakter kerja kerasnya klop dengan keberuntungannya. Hanya memang saat menjelang tua sangat spiritual dan suka menyendiri di gunung.
Jadi sekarang saya tak heran kenapa Prabowo memilih tinggal di kaki Bukit Hambalang daripada Paris yang secara finansial tentu bukan masalah besar tinggal di luar negeri.
Nah ada yang menjadikan saya penasaran, hal itu adalah kemampuannya dalam bidang yang bersifat gaib dan parapsikologi. Boleh disebut sangat paham dan ahli dalam ilmu kebatinan. Hmm…
3. Wuku
Prabowo terlahir dalam pengaruh wuku Julungpujud. Sebuah wuku yang jika digabungkan dengan Mangsa KALIMA akan menghasilkan karakter ramah dan senang ngobrol, senang berbagi, pembela kawan yang lemah dan tidak kekurangan uang.
Nah, kurang lebih itulah sosok Prabowo Subianto berdasarkan primbon horoskop Jawa. Semoga bisa memberikan gambaran melalui khasanah pengetahuan para leluhur yang jauh lebih lama hidup dan tinggal di bumi Nusantara ini.
Untuk benar atau tidaknya, tidak ada cara lain untuk mengetestnya kecuali dengan menghitung karakter diri kita sendiri dalam hitungan primbon. Iya, kan?
Hehehe…
————————
Sumber:
Ki Hudoyo Doyodipuro, OCC,
Horoskop Jawa - Misteri Pranata Mangsa,
Dahara Prize - 2003
[Bekasi, 1 Januari 2014]
Sumber
http://sosok.kompasiana.com/2014/01/01/prabowo-subianto-dalam-primbon-jawa-621259.html
Ya, melihat geografis Indonesia yang tropis, magnetisme bumi dan DNA individunya yang berbeda dengan orang Barat—tentu horoskop versi Jawa tentu lebih tepat digunakan untuk melihat karakter orang Indonesia daripada astrologi barat atau shio Tiongkok. Tak terkecuali kepada Prabowo Subianto.
Apalagi, hitungan primbon ini lekat dengan pranata mangsa (tatanan waktu) yang sangat erat kaitannya dengan musim tanam baik padi atau palawija khas pekerjaan utama masyarakat Indonesia, baik Jawa mau pun sekitarnya. Apalagi dikaitkan dengan strategi dorongan besar ala Prabowo yang memang berbasis pertanian, tentu mau tidak mau—hitungan primbon ini menjadi sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu dan penasaran.
Nah, dari tanggal lahir Prabowo di 17 Oktober 1951—akan terlihat petunjuk dasar sebagai berikut:
Weton: Rabu Pon
Mongso: Kalima
Wuku: Julungpujud
Dari data awal tersebut, dapat dilihat beberapa hal sebagai berikut:
1. Weton
Prabowo dengan weton Rabu Pon, dalam hitungan Jawa adalah tipe manusia yang penuh keberuntungan. Sangat detail dan hati-hati dalam merencanakan sesuatu tindakan serta mempunyai keterampilan dalam personal approach atau sosial yang sebenarnya sangat mudah bergaul.
Namun kekurangannya, sangat mementingkan harga diri dan kadangkala narsis. Untung saja narsis ini lebih sekedar sebagai cara bercanda dan jauh dari niat untuk menyombongkan diri.
2. Mongso
Prabowo yang terlahir di pranata mangsa KALIMA, sebuah “zodiak” versi Jawa yang mempunyai batasan waktu orbit 27 hari, dari tangga 14 Oktober sampai dengan 9 November yang mendapat sebutan (candra) “Pancuran emas sumawur ing jagat” yang berarti pancuran emas yang bertaburan di bumi.
Sebuah perlambang bahwa saat sosok itu dilahirkan, waktu itu adalah saat dimana Tuhan sedang menganugrahkan sesuatu yang berharga yaitu “emas” dan “air”. Sedangkan emas sendiri adalah sesuatu yang sangat murni dan abadi dan air adalah sumber kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Perlambang yang akan menjadi karakter dasarnya selama hidup menjadi manusia.
Mangsa Kalima ini juga sangat dipengaruhi oleh energi kosmis “Batara Asmara”. Gambaran dari keberuntungan, kebahagiaan dan kesenangan/kesejahteraan.
Namun sayangnya, sebelum keberuntungan dan kesejahteraan datang—ujian dan gangguan tidak menyenangkan akan hadir terlebih dahulu. Akan mengalami masa penderitaan yang dalam dan menyiksa. Mau tidak mau, derita itu sendiri adalah samaran dari “Hyang Asmara”. Dan kebahagiaan itu akan hadir ketika sudah tabah melewati penderitaan. Termasuk penderitaan fitnah 1998 yang diterimanya.
Lahir di mangsa ini juga mempunyai sifat sangat menjaga harga diri dan ketika berkerja, sering melakukannnya diam-diam namun selalu sukses.
Istimewanya, ia adalah sosok yang sangat percaya diri dalam menghadapi kehidupan. Jarang mengeluh dan pantang menyerah menghadapi kesulitan.
Lebih menariknya, karakter mangsa ini juga sangat pandai menyimpan rahasia dan selalu menepati janji. Jadi sering menjadi tempat curhat untuk rahasia pribadi serta disegani dan berwibawa. Namun sayangnya, kadangkala terlalu menyimpan rahasia juga tidak baik—apalagi jika rahasia itu merugikan diri sendiri.
Kemudian, fisik golongan mangsa ini adalah mempunyai postur tubuh serasi dan bentuk leher agak besar. Sorot matanya tajam dan tangannya berotot tanda bahwa ia mampu melakukan pekerjaan berat. Cara jalannya pun tegap dan gagah, ciri manusia yang tegas dan tidak klemar-klemer.
Sewaktu kecil, sosok dibawah naungan Dewa Asmara ini walau pendiam namun sangat cerdas luar biasa. Sangat cepat menerima pelajaran, bahkan mempunyai inisiatif mempelajari sesuatu tanpa guru.
Selain itu, ia juga menjadi pembela kawannya yang sedang dalam ancaman. Berani berkelahi untuk kawan-kawannya. Lebih lengkapnya, ia sangat royal dalam mentraktir sahabatnya.
Nah, jadi tak heran kenapa Soe Hok Gie sering meminjam sepatu Prabowo untuk naik gunung. Sepertinya bagi Prabowo, bukan hal yang sulit untuk meminjamkan sepatunya ke Gie. Sepatu yang juga merupakan sepatu yang dipakai saat akhirnya wafat di gunung Semeru.
Semenjak kecil, kelahiran mangsa kalima ini ternyata sangat menyukai binatang. Baik kucing, anjing, kelinci, burung atau lain sebagainya. Ya, tidak heran jika Prabowo sekarang sangat suka memelihara kuda, kambing atau sapi. Sudah bawaaan bayi.
Karakter masa kecil ini ternyata masih berlaku sampai dengan dewasa. Masih sangat pandai menyimpan rahasia dan pendiam. Namun kelebihannya, kemampuan bahasa asingnya sangat tinggi. Kejujuran yang tidak diragukan dan selalu menepati janji. Walau kadang dalam kondisi tertentu menjadi sosok yang nekad dan keras. Mungkin kebiasaan membela kawan-kawannya semasa kecil.
Hobi dimasa dewasa juga tak jauh-jauh dari masa kecil, suka membela sahabat, senang mentraktir dan berbagi karena karakter kerja kerasnya klop dengan keberuntungannya. Hanya memang saat menjelang tua sangat spiritual dan suka menyendiri di gunung.
Jadi sekarang saya tak heran kenapa Prabowo memilih tinggal di kaki Bukit Hambalang daripada Paris yang secara finansial tentu bukan masalah besar tinggal di luar negeri.
Nah ada yang menjadikan saya penasaran, hal itu adalah kemampuannya dalam bidang yang bersifat gaib dan parapsikologi. Boleh disebut sangat paham dan ahli dalam ilmu kebatinan. Hmm…
3. Wuku
Prabowo terlahir dalam pengaruh wuku Julungpujud. Sebuah wuku yang jika digabungkan dengan Mangsa KALIMA akan menghasilkan karakter ramah dan senang ngobrol, senang berbagi, pembela kawan yang lemah dan tidak kekurangan uang.
Nah, kurang lebih itulah sosok Prabowo Subianto berdasarkan primbon horoskop Jawa. Semoga bisa memberikan gambaran melalui khasanah pengetahuan para leluhur yang jauh lebih lama hidup dan tinggal di bumi Nusantara ini.
Untuk benar atau tidaknya, tidak ada cara lain untuk mengetestnya kecuali dengan menghitung karakter diri kita sendiri dalam hitungan primbon. Iya, kan?
Hehehe…
————————
Sumber:
Ki Hudoyo Doyodipuro, OCC,
Horoskop Jawa - Misteri Pranata Mangsa,
Dahara Prize - 2003
[Bekasi, 1 Januari 2014]
Sumber
http://sosok.kompasiana.com/2014/01/01/prabowo-subianto-dalam-primbon-jawa-621259.html
@
Tagged @ Calon Presiden
Tagged @ Gerindra
Tagged @ Misteri
Tagged @ Mistik
Tagged @ Partai Gerindra
Tagged @ Prabowo Subianto
Tagged @ Primbon
Tagged @ Wawasan





0 komentar:
Posting Komentar - Kembali ke Konten