Prabowo Subianto
Pikiran-pikiran Prabowo Subianto, sebetul nya telah banyak
dipahami oleh sebagian besar warga bangsa. Sebagai salah seorang Calon
Presiden pada Pemilihan Presiden 2014 nanti, Prabowo Subianto dikenal
sebagai sosok yang banyak menawarkan gagasan dan pandangan dan menopang
tercipta nya perubahan. Pemikiran-pemikiran yang kritis, kerap kali
disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Prabowo bukanlah tipe pemimpin yang menyerah kepada nasib.
Prabowo bukan juga sosok anak bangsa yang senang mempertahankan status
quo. Namun, sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman
profesional nya, Prabowo dikenal sebagai orang yang “pro perubahan”. Itu
sebab nya, menjadi sangat wajar kalau dalam Pilpres 2014 mendatang,
nama Prabowo pantas untuk diperhitungkan.
Dari sekian banyak pikiran-pikiran yang sering dilontarkan
Prabowo, ternyata yang paling mendapat banyak sorotan adalah soal
kerisauan nya akan masa depan bangsa dan negara, dikarenakan ada nya
pengelolaan negara dan bangsa yang salah urus. Prabowo sangat meyakini
jika kita mampu mengelola pembangunan dengan baik, mesti nya bangsa ini
tidak harus terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung
pangkal.
Kita juga tidak perlu was-was memikirkan utang luar negeri, yang
kian hari kian membengkak jumlah nya. Dan yang tak kalah penting nya
untuk disampaikan, ternyata kita pun tidak perlu khawatir dengan semakin
marak nya gaya hidup bangsa yang sofistikasi dan budaya bangsa yang
hedonis. Atas dasar gambaran yang demikian, rasa nya kita bakal sepakat
jika ada orang yang berpikir keras untuk “menyelamatkan” negeri tercinta
ini.
Apa yang menjadi pemikiran Prabowo diatas, tentu tidak akan
memberi hasil yang optimal, sekira nya ide, gagasan dan pandangan cerdas
tersebut, tidak mampu “dibumikan” dalam kehidupan nyata di lapangan.
Oleh karena itu, menjadi sebuah kehormatan bagi kita, kalau
pemikiran-pemikiran itu dapat diejawantahkan ke dalam program-program
aksi. Dalam mewujudkan spirit Ekonomi Kerakyatan misal nya, kita
ditantang untuk memperkokoh pilar-pilar kemandirian ekonomi yang selama
ini banyak digeluti oleh rakyat.
Kekokohan pilar inilah yang akan membuat kehidupan ekonomi rakyat
tidak akan mudah digoyang oleh masalah-masalah ekonomi. Kejadian jatuh
nya Pemerintahan Orde Baru, yang salah satu pemicu nya adalah krisis
ekonomi keuangan dunia dan kemudian berkembang menjadi krisis yang
multidimensi, harus nya tidak perlu membuat ekonomi kita seperti yang
sempoyongan, namun dengan kokoh nya pilar-pilar penopang Ekonomi
Kerakyatan, menjadikan ekonomi bangsa tetap ajeg dan tahan menghadapi
berbagai tantangan yang menerpa nya.
Lewat salah satu wawancara di media massa, Prabowo pernah
menyatakan : “Merdeka = Petani Sejahtera”. Dalam benak Prabowo Subianto,
keberhasilan mengarungi 68 tahun Indonesia Merdeka, bukan cuma diukur
dari banyak nya gedung-gedung pencakar langit yang dibangun, atau
dihubungkan dengan semakin banyak nya jalan-jalan tol dan infrastruktur
pembangunan yang dibuat, tapi yang lebih penting dan esensial adalah
sampai sejauh mana Pemerintah di jaman nya mampu meningkatkan
kesejahteraan rakyat nya secara signifikan.
Salah satu komunitas yang hingga kini masih pantas untuk disebut
memprihatinkan adalah para petani, khusus nya mereka yang divonis petani
gurem dan petani buruh. Mereka hidup ala kadar nya. Mereka tetap
tersenyum simpul, sekali pun harga daging sapi menjelang Lebaran
melambung di angka Rp. 100.000,- per kilo gram nya. Pertanyaan nya
adalah langkah seperti apa yang dapat mendongkrak kesejahteraan petani ?
Diparipurnakan sekaligus ditetapkan nya Undang Undang
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani di pertengahan Juli 2013 lalu oleh
DPR, sebetul nya memiliki haluan yang sama dengan kehendak beberapa
kalangan yang menuntut agar kesejahteraan petani dapat ditingkatkan
kualitas nya. Banyak cara dan siasat yang dapat dilakukan. Mulai ada nya
target untuk meningkatkan penghasilan dan pendapatan petani sebesar 2
atau 3 kali lipat dari yang diterima nya selama ini, hingga kepada
keberanian politik untuk menargetkan pencapaian Nilai Tukar Petani (NTP)
pada angka 125 misal nya.
Hal semacam ini pantas untuk dicermati, karena jika dalam nurani
kita terbersit niat untuk mempercepat kesejahteraan petani, maka sangat
logis, bila program-program yang digelindingkan Pemerintah pun berkiblat
pada pencapaian target nya sendiri. Sayang, pengalaman memperlihatkan
kepada kita, ternyata antara kemauan politik yang diambil tidak pernah
dapat satu nafas dengan tindakan politik yang dilakukan nya.
Ke depan, kalau bangsa ini ingin menguasai perubahan, maka kata
kunci nya adalah “bumikan” pemikiran-pemikiran cerdas dan strategis
Prabowo Subianto ke dalam program-program nyata di masyarakat.
Penguasaan dalam “membumikan” gagasan ke tataran program inilah yang
menjadi indikator awal dari terejawantahkan nya semangat diatas. Semua
nya ini bakal terwujud, seandai nya kita mampu mengemas nya dalam sebuah
“gerakan” yang sistemik. Tidak lagi menggunakan pendekatan keproyekan.
Gerakan sendiri, sepatut nya dimaknai sebagai kebersamaan,
keberlanjutan, keterpaduan, keserempakan, bahu membahu, dan tentu saja
terajut dalam sebuah pola yang sistemik. Dalam gerakan, para pihak yang
terlibat di dalam nya memiliki peran dan tanggungjawab sesuai dengan
potensi, kapasitas dan kompetensi nya masing-masing. Itulah sebab nya,
mengapa yang nama nya gerakan, senantiasa akan dilandasi oleh tumbuh nya
“rasa memiliki”, “rasa tanggungjawab” dan “rasa memajukan” dari para
pihak yang ikut serta di dalam nya.
Andai dalam beberapa bulan ke depan kita mampu mengemas nya
dengan baik maka kehadiran dan keberadaan Prabowo Subianto dalam
panggung politik 2014, tentu akan semakin membawa harapan dan kecerahan.
Keyakinan rakyat pun pasti bakal bertambah soal siapa yang paling pas
untuk menjadi pemimpin nya periode 2014-2019.
Sumber
http://sosok.kompasiana.com/2013/08/25/membumikan-pemikiran-pemikiran-prabowo-subianto-583936.html
@
Tagged @ Berita Nasional
Tagged @ Calon Presiden
Tagged @ Gerindra
Tagged @ Orang dan Tokoh
Tagged @ Partai Gerindra
Tagged @ Politik
Tagged @ Prabowo Subianto





0 komentar:
Posting Komentar - Kembali ke Konten