Ada dua nama yang banyak dipakai oleh orang Jawa, yaitu Bambang dan Joko. Buktinya, jika kita periksa buku telepon lembar kuning (yellow pages) bisa ditemukan ratusan nama Bambang dan Joko.
Memang kedua nama ini nama yang sangat populer sejak jaman dahulu. Untuk masa kini sangat jarang ada anak lahir yang diberi kedua nama Jawa ini, apalagi di perkotaan sudah kian langka bayi-anak kecil yang bernama Bambang atau Joko.
pada 2014 ini nama Bambang yang dalam 10 tahun terakhir sangat ngetop akan surut perlahan pasca 20 Oktober 2014, sebaliknya nama Joko akan semakin melambung mencapai klimaksnya 20 Oktober 2014.Setelah itu Joko harus membuktikan kinerjanya sesuai dengan harapan mayoritas rakyat Indonesia. Sudah suratan nasib, bila ada seorang beretnis Jawa bernama Bambang menjadi presiden maka akan ‘menarik’ nama Jawa lain yang tak kalah populernya yaitu Joko sebagai suksesornya.
Kita sambut tanda-tanda alam yang nyata ini dengan rasa syukur bahwa Joko yang mendadak melambung namanya dalam 2 tahun belakangan ini kiranya akan lebih baik daripada Bambang yang selama 10 tahun sangat membosankan dan minim perubahan positif. Pencapaian ekonomi Bambang bagi Indonesia yang menduduki posisi 10 besar dunia tidaklah linier dengan pendapatan perkapita rakyat Indonesia yang masih jauh di bawah negara-negara di luar 10 besar dunia. Begitu pula subsidi BBM selama 10 tahun Bambang memerintah,selalu meningkat tanpa solusi tuntas untuk menguranginya. Tidak ada terobosan seperti Brazil yang berhasil mengalihkan 60% konsumsi BBM Fosil ke Ethanol yang merupakan energi terbarukan.
Jadi tugas berat ada di tangan seorang Joko yang harus kerja keras-kerja cerdas untuk membuktikan dialah satria piningit yang ditunggu-tunggu selama berabad-abad oleh seluruh suku bangsa di nusantara untuk membuat semua suku bangsa se nusantara sebagai majikan di tanah airnya sendiri.
Memang kedua nama ini nama yang sangat populer sejak jaman dahulu. Untuk masa kini sangat jarang ada anak lahir yang diberi kedua nama Jawa ini, apalagi di perkotaan sudah kian langka bayi-anak kecil yang bernama Bambang atau Joko.
pada 2014 ini nama Bambang yang dalam 10 tahun terakhir sangat ngetop akan surut perlahan pasca 20 Oktober 2014, sebaliknya nama Joko akan semakin melambung mencapai klimaksnya 20 Oktober 2014.Setelah itu Joko harus membuktikan kinerjanya sesuai dengan harapan mayoritas rakyat Indonesia. Sudah suratan nasib, bila ada seorang beretnis Jawa bernama Bambang menjadi presiden maka akan ‘menarik’ nama Jawa lain yang tak kalah populernya yaitu Joko sebagai suksesornya.
Kita sambut tanda-tanda alam yang nyata ini dengan rasa syukur bahwa Joko yang mendadak melambung namanya dalam 2 tahun belakangan ini kiranya akan lebih baik daripada Bambang yang selama 10 tahun sangat membosankan dan minim perubahan positif. Pencapaian ekonomi Bambang bagi Indonesia yang menduduki posisi 10 besar dunia tidaklah linier dengan pendapatan perkapita rakyat Indonesia yang masih jauh di bawah negara-negara di luar 10 besar dunia. Begitu pula subsidi BBM selama 10 tahun Bambang memerintah,selalu meningkat tanpa solusi tuntas untuk menguranginya. Tidak ada terobosan seperti Brazil yang berhasil mengalihkan 60% konsumsi BBM Fosil ke Ethanol yang merupakan energi terbarukan.
Jadi tugas berat ada di tangan seorang Joko yang harus kerja keras-kerja cerdas untuk membuktikan dialah satria piningit yang ditunggu-tunggu selama berabad-abad oleh seluruh suku bangsa di nusantara untuk membuat semua suku bangsa se nusantara sebagai majikan di tanah airnya sendiri.
Sumber
http://sosbud.kompasiana.com/2014/05/19/habis-bambang-terbitlah-joko-653577.html
@
Tagged @ Calon Presiden
Tagged @ Joko Widodo
Tagged @ PDIP





0 komentar:
Posting Komentar - Kembali ke Konten