Saya suka membicarakan hal-hal mendasar seperti sex. Sebagian masyarakat masih ada yang menganggap tabu. Padahal tema kelamin merupakan urusan pokok yang bisa terimplikasi pada urusan lain. Aplikasi virus tersebut bisa menyebar di dalam rumah tangga dan di luar rumah tangga. Kadang sampai pada pemicu keretakkan rumah tangga, bahkan ada faktor-faktor manusiawi yang tidak terkait langsung dengan sex, urusan itupun bisa membesar karena faktor sex. Banyak kalangan rumah tangga yang menutup-nutupi, khususnya kaum wanita, namun nurani yang terdalam ada faktor yang terimplikasi langsung karena faktor kelamin ini. Mungkin adat di dalam rumah tangga tersesebut masih menganggap tabu, jijik, kurang etis, dan lain-lain.
Hubungan suami istri yang diteladankan Rasulullah Saw terletak pada nilai keseimbangan dan keadilan. Demikian juga persoalan sex harus dilakukan dengan adil dan seimbang. Misal masalah orgasme, suami harus mampu memberikan keseimbangan pada istri. Istri yang belum mencapai orgamse harus dipacu agar terjadi orgasme bersamaan. Keseimbangan orgasme bersama-sama merupakan puncak klimaks arena sex. Tanda orgasme pria bisa diketahui dengan jelas (keluarnya mani dengan tenaga yang kuat), akan tetapi pencapaian orgamse istri tidak bisa diketahui kedalamannya.
Faktornya sangat banyak, diantara sifat wanita seprofesional apapun posisi sosialnya, faktor gender tetap ada. Rasa malu, emosi, dan penguasaan logika sering mudah terseret lemah karena dominasi rasa malu dan perasaan emosinya. Sehingga mengetahui tanda-tanda orgasme kaum wanitapun sulit teridentifikasi.
Akan tetapi dalam Kitab Quurrotul ‘Uyun, tanda-tanda kaum wanita mencapai orgasme bisa diketahui dari 4 hal;
a. Keluar keringat dingin pada kening atau dahinya
b. Tubuhnya melekat kuat pada tubuh suami
c. Tubuhnya gemetar, dan inginnya mencari tahanan yang lebih kuat
d. Setelah mencapai orgasme biasanya tulang rusuknya melemah dan malu memandang wajah suaminya sendiri
Jika arena sexologis rumah tangga ini sudah ditemukan pada tubuh dan wajah istrinya, hal itu menjadi petanda bahwa istri sudah mencapai orgasme. Istri yang sering mencapai orgasme atau orgasme bersamaan dengan suami, maka penyerahan hidup terhadap kaum lelaki akan dilakukan dengan sepenuh-penuhnya (ihtibas), dan tidak bisa dipisahkan lagi. Istri tidak akan melakukan nuzuz kepada sang pujaan hati.
Sulit retak. Tidak logis, tapi nyata !
Faktor psikologis ini bisa sangat berbahaya jika terjadi di luar rumah tangga. Wanita yang mencapai analisis sexologis tersebut bisa sulit memisahkan diri dengan patnernya. Penyerahan hidup, harta, diri, tubuh, waktu, mereka rela diserahkan kepada pasangannya sepenuh-penuhnya. Makanya di jalanan banyak ditemukan pasangan-pasangan “gila,” mereka sudah mematangkan diri sebelum waktunya matang. Jika tidak menemukan pasangan atau dikecewakan oleh yang bersangkutan, maka dia akan mencari pelampisankan “brutal” pada faktor lain dengan cara terang-terangan, atau melalui manajemen yang terbuka sekali. Lihatlah ! Fenomena sosial anak-anak remaja tanpa malu-malu soal urusan sex, sesungguhnya bermula dari “rasa” yang sesungguhnya belum waktunya dirasakan. Ada faktor ketagihan dan kekecewasaan yang sangat mendalam. Sehingga muncul budaya freesex, pelecehan sex, dan atau pergaulan bebas.
Keluarga yang men-setting area sex sedemikian apik dalam pencapaian titik klimak bersamaan, tentunya ada kecantikan (aura) dari dalam. Memang cantik yang bisa bercahaya dari dalam banyak faktor, intinya terletak pada keharmonisan dan ketenangan hidup. Ada yang ditempuh melalui harta benda dan fasilitas hidup, intlektualitas, profesionalitas, kepuasan sosial, aktualisasi diri, dan banyak lagi. Sementara faktor sexilogis ini gratis, tidak mbayar, dan setiap potensi keluarga bisa melakukan dengan baik dan bijaksana.
Lalu kenapa tidak harus dicapai orgasme bersamaan ! Maka penting bagi netizex (pinjem, yee !) untuk mengenal dan memahami manajemen sexologi islam yang baik dan benar. (tiktin)
Hubungan suami istri yang diteladankan Rasulullah Saw terletak pada nilai keseimbangan dan keadilan. Demikian juga persoalan sex harus dilakukan dengan adil dan seimbang. Misal masalah orgasme, suami harus mampu memberikan keseimbangan pada istri. Istri yang belum mencapai orgamse harus dipacu agar terjadi orgasme bersamaan. Keseimbangan orgasme bersama-sama merupakan puncak klimaks arena sex. Tanda orgasme pria bisa diketahui dengan jelas (keluarnya mani dengan tenaga yang kuat), akan tetapi pencapaian orgamse istri tidak bisa diketahui kedalamannya.
Faktornya sangat banyak, diantara sifat wanita seprofesional apapun posisi sosialnya, faktor gender tetap ada. Rasa malu, emosi, dan penguasaan logika sering mudah terseret lemah karena dominasi rasa malu dan perasaan emosinya. Sehingga mengetahui tanda-tanda orgasme kaum wanitapun sulit teridentifikasi.
Akan tetapi dalam Kitab Quurrotul ‘Uyun, tanda-tanda kaum wanita mencapai orgasme bisa diketahui dari 4 hal;
a. Keluar keringat dingin pada kening atau dahinya
b. Tubuhnya melekat kuat pada tubuh suami
c. Tubuhnya gemetar, dan inginnya mencari tahanan yang lebih kuat
d. Setelah mencapai orgasme biasanya tulang rusuknya melemah dan malu memandang wajah suaminya sendiri
Jika arena sexologis rumah tangga ini sudah ditemukan pada tubuh dan wajah istrinya, hal itu menjadi petanda bahwa istri sudah mencapai orgasme. Istri yang sering mencapai orgasme atau orgasme bersamaan dengan suami, maka penyerahan hidup terhadap kaum lelaki akan dilakukan dengan sepenuh-penuhnya (ihtibas), dan tidak bisa dipisahkan lagi. Istri tidak akan melakukan nuzuz kepada sang pujaan hati.
Sulit retak. Tidak logis, tapi nyata !
Faktor psikologis ini bisa sangat berbahaya jika terjadi di luar rumah tangga. Wanita yang mencapai analisis sexologis tersebut bisa sulit memisahkan diri dengan patnernya. Penyerahan hidup, harta, diri, tubuh, waktu, mereka rela diserahkan kepada pasangannya sepenuh-penuhnya. Makanya di jalanan banyak ditemukan pasangan-pasangan “gila,” mereka sudah mematangkan diri sebelum waktunya matang. Jika tidak menemukan pasangan atau dikecewakan oleh yang bersangkutan, maka dia akan mencari pelampisankan “brutal” pada faktor lain dengan cara terang-terangan, atau melalui manajemen yang terbuka sekali. Lihatlah ! Fenomena sosial anak-anak remaja tanpa malu-malu soal urusan sex, sesungguhnya bermula dari “rasa” yang sesungguhnya belum waktunya dirasakan. Ada faktor ketagihan dan kekecewasaan yang sangat mendalam. Sehingga muncul budaya freesex, pelecehan sex, dan atau pergaulan bebas.
Keluarga yang men-setting area sex sedemikian apik dalam pencapaian titik klimak bersamaan, tentunya ada kecantikan (aura) dari dalam. Memang cantik yang bisa bercahaya dari dalam banyak faktor, intinya terletak pada keharmonisan dan ketenangan hidup. Ada yang ditempuh melalui harta benda dan fasilitas hidup, intlektualitas, profesionalitas, kepuasan sosial, aktualisasi diri, dan banyak lagi. Sementara faktor sexilogis ini gratis, tidak mbayar, dan setiap potensi keluarga bisa melakukan dengan baik dan bijaksana.
Lalu kenapa tidak harus dicapai orgasme bersamaan ! Maka penting bagi netizex (pinjem, yee !) untuk mengenal dan memahami manajemen sexologi islam yang baik dan benar. (tiktin)
Sumber
http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2011/11/16/sexologi-islam-mengira-tanda-tanda-istri-mencapai-orgasme-410771.html
@
Tagged @ orgasme
Tagged @ Seks





0 komentar:
Posting Komentar - Kembali ke Konten